Kabupaten Klungkung
Kabupaten
Klungkung adalah kabupaten terkecil di provinsi Bali, Indonesia. Ibukotanya berada di Semarapura. Klungkung berbatasan dengan Kabupaten Bangli di sebelah utara, Kabupaten
Karangasem di timur, Kabupaten Gianyar di barat dan dengan Samudra Hindia di sebelah selatan.
Sepertiga
wilayah Kabupaten Klungkung (112,16 km²) terletak di antara pulau Bali dan dua pertiganya (202,84 km²) lagi merupakan
kepulauan, yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Tempat-tempat menarik
Beberapa
tempat menarik yang layak untuk dikunjungi antara lain:
- Monumen Puputan
- Taman Gili / Kerta Gosa
- Nusa Lembongan dan Nusa Penida
- Desa Wisata Kamasan
- Desa berwawasan seni dan
budaya,desa TOHPATI, banjarangkan
Kecamatan
Kabupaten
Klungkung dibagi menjadi 4 wilayah kecamatan, yaitu:
Keadaan geografis
Kabupaten Klungkung merupakan
Kabupaten yang paling kecil dari 9 (sembilan) Kabupaten dan Kodya di Bali,
terletak diantara 115 ° 27 ' - 37 '' 8 ° 49 ' 00 ''. Lintang Selatan dengan
batas-batas disebelah utara Kabupaten Bangli. Sebelah Timur Kabupaten
Karangasem, sebelah Barat Kabupaten Gianyar, dan sebelah Selatan Samudra India,
dengan luas : 315 Km ².
Wilayah Kabupaten Klungkung sepertiganya ( 112,16 Km ²) terletak diantara pulau Bali dan dua pertiganya ( 202,84 Km ² lagi merupakan kepulauan yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Menurut penggunaan lahan di Kabupaten Klungkung terdiri dari lahan sawah 4.013 hektar, lahan kering 9.631 hektar, hutan negara 202 hektar, perkebunan 10.060 hektar dan lain-lain 7.594 hektar.
Kabupaten Klungkung merupakan dataran pantai sehingga potensi perikanan laut.Panjang pantainya sekitar 90 Km yang terdapat di Klungkung daratan 20 Km dan Kepulauan Nusa Penida 70 Km.
Permukaan tanah pada umumnya tidak rata, bergelombangbahkan sebagian besar berupa bukit-bukit terjal yang kering dan tandus.Hanya sebagian kecil saja merupakan dataran rendah.Tingkat kemiringan tanah diatas 40 % (terjal) adalah seluas 16,47 Km2 atau 5,32 % dari Kabupaten Klungkung.
Bukit dan gunung tertinggi bernama Gunung Mundi yang terletak di Kecamatan Nusa Penida.
Sumber air adalah mata air dan sungai hanya terdapat di wilayah daratan Kabupaten Klungkung yang mengalir sepanjang tahun. Sedangkan di Kecamatan Nusa Penida sama sekali tidak ada sungai.Sumber air di Kecamatan Nusa Penida dalah mata air da air hujan yang ditampung dalam cubang oleh penduduk setempat.
Kabupaten Klungkung termasuk beriklim tropis .Bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering antara Kecamatan Nusa Penida dan Kabupaten Klungkung daratan sangat berbeda.
Wilayah Kabupaten Klungkung sepertiganya ( 112,16 Km ²) terletak diantara pulau Bali dan dua pertiganya ( 202,84 Km ² lagi merupakan kepulauan yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Menurut penggunaan lahan di Kabupaten Klungkung terdiri dari lahan sawah 4.013 hektar, lahan kering 9.631 hektar, hutan negara 202 hektar, perkebunan 10.060 hektar dan lain-lain 7.594 hektar.
Kabupaten Klungkung merupakan dataran pantai sehingga potensi perikanan laut.Panjang pantainya sekitar 90 Km yang terdapat di Klungkung daratan 20 Km dan Kepulauan Nusa Penida 70 Km.
Permukaan tanah pada umumnya tidak rata, bergelombangbahkan sebagian besar berupa bukit-bukit terjal yang kering dan tandus.Hanya sebagian kecil saja merupakan dataran rendah.Tingkat kemiringan tanah diatas 40 % (terjal) adalah seluas 16,47 Km2 atau 5,32 % dari Kabupaten Klungkung.
Bukit dan gunung tertinggi bernama Gunung Mundi yang terletak di Kecamatan Nusa Penida.
Sumber air adalah mata air dan sungai hanya terdapat di wilayah daratan Kabupaten Klungkung yang mengalir sepanjang tahun. Sedangkan di Kecamatan Nusa Penida sama sekali tidak ada sungai.Sumber air di Kecamatan Nusa Penida dalah mata air da air hujan yang ditampung dalam cubang oleh penduduk setempat.
Kabupaten Klungkung termasuk beriklim tropis .Bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering antara Kecamatan Nusa Penida dan Kabupaten Klungkung daratan sangat berbeda.

Kecamatan Klungkung
Kecamatan Klungkung merupakan kecamatan terkecil dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung, dengan batas-batas disebelah Utara Kabupaten Karangasem, sebelah Timur Kecamatan Dawan, sebelah Barat Kecamatan Banjarangkan dan sebelah Selatan dengan Selat Badung, dengan luas 2.095 Ha, secara persis semua terletak di daerah daratan pulau Bali.
Kecamatan Klungkung merupakan kecamatan terkecil dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung, dengan batas-batas disebelah Utara Kabupaten Karangasem, sebelah Timur Kecamatan Dawan, sebelah Barat Kecamatan Banjarangkan dan sebelah Selatan dengan Selat Badung, dengan luas 2.095 Ha, secara persis semua terletak di daerah daratan pulau Bali.
Kecamatan Banjarangkan
Kecamatan Banjarangkan merupakan Kecamatan yang terletak paling Barat dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung, dengan batas-batas, sebelah Utara Kabupaten Bangli, sebelah Timur Kecamatan Klungkung, sebelah Barat Kabupaten Gianyar dan sebelah Selatan Selat Badung, dengan luas 45,73 Km ²
Secara administrasi Kecamatan Banjarangkan terdiri dari 13 Desa, 55 dusun, 26 Desa Adat, dalam usaha untuk memajukan perekonomian di wilayah ini telah didukung dengan beberapa sarana seperti, pasar umum, koperasi, KUD, dan bank, RPD yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memajukan perekonomian desa.
Kecamatan Banjarangkan merupakan Kecamatan yang terletak paling Barat dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung, dengan batas-batas, sebelah Utara Kabupaten Bangli, sebelah Timur Kecamatan Klungkung, sebelah Barat Kabupaten Gianyar dan sebelah Selatan Selat Badung, dengan luas 45,73 Km ²
Secara administrasi Kecamatan Banjarangkan terdiri dari 13 Desa, 55 dusun, 26 Desa Adat, dalam usaha untuk memajukan perekonomian di wilayah ini telah didukung dengan beberapa sarana seperti, pasar umum, koperasi, KUD, dan bank, RPD yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memajukan perekonomian desa.
Kecamatan Dawan
Kecamatan Dawan merupakan Kecamatan yang terletak paling Timur dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung dengan batas-batas, sebelah Utara dan Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kecamatan Klungkung dan sebelah Selatan Samudra Hindia dengan luas 37,38 Km ². Menurut penggunaannya luas wilayah Kecamatan Dawan terdiri 16,21 % lahan sawah, 17,26 % lahan tegalan, 35,50 % lahan perkebunan, 6,93 % lahan pekarangan 0,21 % kuburan dan lainnya 23,89 %.
Kecamatan Dawan merupakan Kecamatan yang terletak paling Timur dari 4 (empat) Kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung dengan batas-batas, sebelah Utara dan Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kecamatan Klungkung dan sebelah Selatan Samudra Hindia dengan luas 37,38 Km ². Menurut penggunaannya luas wilayah Kecamatan Dawan terdiri 16,21 % lahan sawah, 17,26 % lahan tegalan, 35,50 % lahan perkebunan, 6,93 % lahan pekarangan 0,21 % kuburan dan lainnya 23,89 %.
Kecamatan Nusa Penida
Kecamatan Nusa Penida terdiri dari tiga kepulauan yaitu pulau Nusa Penida, Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan, terdiri dari 16 Desa Dinas, Dengan Jumlah Penduduk 46,749 Jiwa (8.543 KK). Pulau Nusa Penida bisa ditempuh dari empat tempat yaitu lewat Benoa dengan menumpang Quiksilver/Balihai ditempuh +1 jam perjalanan, lewat Sanur dengan menumpang perahu jarak tempuh + 1,5 Jam perjalanan. Lewat Kusamba dengan menumpang Jukung jerak tempuh +1,5 jam perjalanan. sedangkan kalau lewat Padangbai dengan menumpang Kapal Boat yang jarak tempuh + 1 jam perjalanan.
Secara umum kondisi Topografi Nusa Penida tergolong landai sampai berbukit. Desa - desa pesisir di sepanjang pantai bagian utara berupa lahan datar dengan kemiringan 0 - 3 % dari ketinggian lahan 0 - 268 m dpl. Semakin ke selatan kemiringan lerengnya semakin bergelombang. Demikian juga pulau Lembongan bagian Utara merupakan lahan datar dengan kemiringan 0- 3% dan dibagian Selatan kemiringannya 3-8 %. Sedangkan Pulau Ceningan mempunyai kemiringan lereng bervariasi antara 8-15% dan 15-30% dengan kondisi tanah bergelombang dan berbukit.
Mata pencaharian penduduk adalah pertanian dan sektor perikanan merupakan mata pencaharian utama oleh 6,68% tersebar pada desa-desa pesisir yaitu Suana, Batununggul, Kutampi Kaler, Ped dan Desa Toyapakeh. Di Pulau Lembongan 16,80% penduduk bergerak dibidang perikanan, dan Ceningan 12,88% mengingat kondisi dan topografi daerah maka yang cocok dikembangkan adalah Sektor Pertanian, dan Sektor Pariwisata.
Kecamatan Nusa Penida terdiri dari tiga kepulauan yaitu pulau Nusa Penida, Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan, terdiri dari 16 Desa Dinas, Dengan Jumlah Penduduk 46,749 Jiwa (8.543 KK). Pulau Nusa Penida bisa ditempuh dari empat tempat yaitu lewat Benoa dengan menumpang Quiksilver/Balihai ditempuh +1 jam perjalanan, lewat Sanur dengan menumpang perahu jarak tempuh + 1,5 Jam perjalanan. Lewat Kusamba dengan menumpang Jukung jerak tempuh +1,5 jam perjalanan. sedangkan kalau lewat Padangbai dengan menumpang Kapal Boat yang jarak tempuh + 1 jam perjalanan.
Secara umum kondisi Topografi Nusa Penida tergolong landai sampai berbukit. Desa - desa pesisir di sepanjang pantai bagian utara berupa lahan datar dengan kemiringan 0 - 3 % dari ketinggian lahan 0 - 268 m dpl. Semakin ke selatan kemiringan lerengnya semakin bergelombang. Demikian juga pulau Lembongan bagian Utara merupakan lahan datar dengan kemiringan 0- 3% dan dibagian Selatan kemiringannya 3-8 %. Sedangkan Pulau Ceningan mempunyai kemiringan lereng bervariasi antara 8-15% dan 15-30% dengan kondisi tanah bergelombang dan berbukit.
Mata pencaharian penduduk adalah pertanian dan sektor perikanan merupakan mata pencaharian utama oleh 6,68% tersebar pada desa-desa pesisir yaitu Suana, Batununggul, Kutampi Kaler, Ped dan Desa Toyapakeh. Di Pulau Lembongan 16,80% penduduk bergerak dibidang perikanan, dan Ceningan 12,88% mengingat kondisi dan topografi daerah maka yang cocok dikembangkan adalah Sektor Pertanian, dan Sektor Pariwisata.
Monumen Puputan Klungkung
Identifikasi dan Daya Tarik
Tugu atau
bangunan ini menjulang tinggi setinggi 28 meter dari alas/dasar bangunan di
tengah-tengah kota Semarapura berbentuk Lingga-Yoni yang dibangun pada areal
seluas 123 meter persegi, diberi nama Monumen Puputan Klungkung yang peresmiannya
dilakukan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 April 1992. Seluruh
bangunan monumen tersebut dibuat dengan batu hitam sehingga selaras dengan
makna filsafat Hindu yaitu puputan atau perang habis-habisan yang dilakukan
oleh putra-putri terbaik kerajaan klungkung bersama-sama dengan rakyatnya.
Identifikasi dan Daya Tarik
Tugu atau
bangunan ini menjulang tinggi setinggi 28 meter dari alas/dasar bangunan di
tengah-tengah kota Semarapura berbentuk Lingga-Yoni yang dibangun pada areal
seluas 123 meter persegi, diberi nama Monumen Puputan Klungkung yang peresmiannya
dilakukan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 April 1992. Seluruh
bangunan monumen tersebut dibuat dengan batu hitam sehingga selaras dengan
makna filsafat Hindu yaitu puputan atau perang habis-habisan yang dilakukan
oleh putra-putri terbaik kerajaan klungkung bersama-sama dengan rakyatnya.
Lokasi
Monumen puputan Klungkung terletak ditengah-tengah Kota Semarapura sehingga mudah dicapai dengan baik dari arah Denpasar, Besakih, Candi Dasa, karena berdiri di pinggiran jalur lalu lintas yang ramai. Letak monumen Puputan Klungkung sangat strategis karena berdekatan dengan Kertha Gosa/Taman Gili, Pusat Pertokoan, Pasar Tradisional dan Kantor Pemerintah.
Monumen puputan Klungkung terletak ditengah-tengah Kota Semarapura sehingga mudah dicapai dengan baik dari arah Denpasar, Besakih, Candi Dasa, karena berdiri di pinggiran jalur lalu lintas yang ramai. Letak monumen Puputan Klungkung sangat strategis karena berdekatan dengan Kertha Gosa/Taman Gili, Pusat Pertokoan, Pasar Tradisional dan Kantor Pemerintah.
Kunjungan
Sejak dibukanya Monumen Puputan Klungkung telah banyak dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.
Sejak dibukanya Monumen Puputan Klungkung telah banyak dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.
Deskripsi
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa-jasa pahlawannya, demikian untaian kata-kata yang menjadikan motivasi Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung dalam membangun monumen Puputan Klungkung guna mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan ksatria yang telah gugur dan rela mengorbankan jiwa raganya serta harta bendanya dalam mempertahankan dan menjunjung harga diri serta martabat nusa dan bangsa dari perkosaan oleh kolonial. Monumen Puputan Klungkung yangmerupakan Tugu peringatan dari suatu peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari selasa Umanis tanggal 28 April 1908 dan pada areal monumen tersebut telah terjadi/pernah terjadi puputan atau perang habis-habisan yang merupakan satu bukti perlawanan gigih melawan usaha-usaha penjajah Belanda dalam menancapkan kuku-kuku imprealismenya. Rakyat Klungkung yang cinta kemerdekaan sangat menghormati dan menjunjung tinggi keluhuran dan kesucian tumpah darah dibawah pimpinan seorang raja yang berkuasa pada waktu itu dan diikuti para bahudanda yang setia telah gugur bergelimang darah akibat hantaman peluru-peluru Belanda. Itulah Klungkung yang walaupun wilayahnya hanyalah setitik kecil dari wilayah persada nusantara, namun sanggup menjunjung dan memegang teguh jiwa heroisme dan patriotisme melalui perang puputan. Monumen Klungkung berbentuk Lingga dan yoni didirikan di atas areal seluas 123 meter persegi, dilengkapi dengan 4 buah balai bengong pada sdudut-sudut halamannya. Bagian baweah lingga terdapat ruangan yang sangat besar berupa gedung persegi empat yang berpintu masuk berupa gapura sebanyak 4 buah yakni satu dari timur, satu dari selatan, satu dari barat dan satu lagi dari utara. Ketinggian monumen itu dari dasar sampai ke puncak lingga adalah 28 m. Sedangkan antara gedung/ruang bawah dengan lingga terdapat semmacam bangunan kubah bersegi delapan dialasi kembang-kembang teratai sebanyak 19 buah. Ini keseluruhannya mencerminkan tanggal 28 april 1908. Puputan Klungkung itu kini diperingati setiap tahun. Sedangkan di dalam ruangan monumen dilengkapi dengan diorama, yang menggambarkan perjuangan rakyat Klungkung bersama rajanya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa-jasa pahlawannya, demikian untaian kata-kata yang menjadikan motivasi Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung dalam membangun monumen Puputan Klungkung guna mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan ksatria yang telah gugur dan rela mengorbankan jiwa raganya serta harta bendanya dalam mempertahankan dan menjunjung harga diri serta martabat nusa dan bangsa dari perkosaan oleh kolonial. Monumen Puputan Klungkung yangmerupakan Tugu peringatan dari suatu peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari selasa Umanis tanggal 28 April 1908 dan pada areal monumen tersebut telah terjadi/pernah terjadi puputan atau perang habis-habisan yang merupakan satu bukti perlawanan gigih melawan usaha-usaha penjajah Belanda dalam menancapkan kuku-kuku imprealismenya. Rakyat Klungkung yang cinta kemerdekaan sangat menghormati dan menjunjung tinggi keluhuran dan kesucian tumpah darah dibawah pimpinan seorang raja yang berkuasa pada waktu itu dan diikuti para bahudanda yang setia telah gugur bergelimang darah akibat hantaman peluru-peluru Belanda. Itulah Klungkung yang walaupun wilayahnya hanyalah setitik kecil dari wilayah persada nusantara, namun sanggup menjunjung dan memegang teguh jiwa heroisme dan patriotisme melalui perang puputan. Monumen Klungkung berbentuk Lingga dan yoni didirikan di atas areal seluas 123 meter persegi, dilengkapi dengan 4 buah balai bengong pada sdudut-sudut halamannya. Bagian baweah lingga terdapat ruangan yang sangat besar berupa gedung persegi empat yang berpintu masuk berupa gapura sebanyak 4 buah yakni satu dari timur, satu dari selatan, satu dari barat dan satu lagi dari utara. Ketinggian monumen itu dari dasar sampai ke puncak lingga adalah 28 m. Sedangkan antara gedung/ruang bawah dengan lingga terdapat semmacam bangunan kubah bersegi delapan dialasi kembang-kembang teratai sebanyak 19 buah. Ini keseluruhannya mencerminkan tanggal 28 april 1908. Puputan Klungkung itu kini diperingati setiap tahun. Sedangkan di dalam ruangan monumen dilengkapi dengan diorama, yang menggambarkan perjuangan rakyat Klungkung bersama rajanya.
Pura Taman Sari
Identifikasi dan Daya Tarik
Lingkungan Pura Taman Sari yang diantaranya terdiri dari dua buahmeru Tumpang sebelas dan meru tumpang sembilan serta dasarnya dilandasi oleh kura-kura raksasa, dikelilingi oleh kolam, dibelit oleh naga Ananthaboga, mengisahkan pada saat para dewa memutar air kehidupan (amerta) untuk kebahagiaan dan kesejahteraan.
Lingkungan Pura Taman Sari yang diantaranya terdiri dari dua buahmeru Tumpang sebelas dan meru tumpang sembilan serta dasarnya dilandasi oleh kura-kura raksasa, dikelilingi oleh kolam, dibelit oleh naga Ananthaboga, mengisahkan pada saat para dewa memutar air kehidupan (amerta) untuk kebahagiaan dan kesejahteraan.
Lokasi
Lingkungan Pura Taman Sari terletak di Banjar Sengguhan, arah timur laut kota Semarapura, sejauh kurang lebih 500 meter, dapat dicapai dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empatsertas jalannya sudah diaspal. Tepatnya di Kelurahan Semarapura.
Lingkungan Pura Taman Sari terletak di Banjar Sengguhan, arah timur laut kota Semarapura, sejauh kurang lebih 500 meter, dapat dicapai dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empatsertas jalannya sudah diaspal. Tepatnya di Kelurahan Semarapura.
Kunjungan
Lingkungan Pura Taman Sari belum banyak mendapat kunjungan wisatawan, hanya dikunjungi dalam rangka penelitian yang berkaitan dengan obyek penelitian pra sejarah.
Lingkungan Pura Taman Sari belum banyak mendapat kunjungan wisatawan, hanya dikunjungi dalam rangka penelitian yang berkaitan dengan obyek penelitian pra sejarah.
Deskripsi
Letak Pura Taman Sari di sudut Timur Laut Kota Klungkung kira-kira 500 meter dari pusat kota. Keindahan Pura ini terlihat dari menyembulnya Meru Tumpang Sebelas dan Meru Tumpang Sembilan dari sebuah kolam. Dari ragam hias Tumpang Sebelas dapat kita maklumi bahwa meru tersebut ibarat Gunung Maha Meru yang dilandasi oleh kura-kura raksasa, terbenam di lautan susu. Kemudian para dewa dan raksasa memutar gunung Maha Meru dengan naga Ananthaboga sebagai pembelitnya. Dengan pusingan gunung tersebut di lautan susu kan dihasilkan berbagai macam produk, diantaranya adalah Amerta (air kehidupan). Demikianlah macam produk, diantaranya adalah Amerta (Air kehidupan). Demikianlah menurut ceritera yang termuat dalam Adi Parwa akan kebesaran arti dari Amerta sebagai pemberi air hidup dunia serta kesejahteraan dan kesucian. Tema ceritra tersebut sangat cocok dengan fungsi kehidupan lingkungan Pura Taman Sari. Lingkungan Pura Taman Sari sebagai tempat memuliakan danmenyimpan senjata pusaka kebesaran Majapahit yang dimiliki oleh Dynasti Kepakisan sebagai penguasa yang ditugaskan oleh Raja Majapahit untuk mengatur ketentraman pulau Bali. Sekalipun senjata-senjata kebesaran yang sangat dimuliakan sudah dirampas oleh Belanda dalam perang Puputan Klungkung pada tahun 1908, namuan hiasan Padma Anglayang sebagai lambang kekuasaan Majapahit masih terdapat pada lingkungan Pura ini. Lingkungan Pura ini dibangun pada akhir abad ke XVII yaitu ketika mulai perpindahan raja keturunan dinasti Kepakisan dari Gelgel ke Klungkung sebagai sesuhunan di Bali. Saat-saat terpenting tercatat dari Lingkungan Pura Taman Sari ialah ketika Dewa Agung Istri Kania memerintah untuk menghancurkan penyerbuan Belanda tahun 1849 di Kusamba. Dari lingkungan Pura Taman Sari beliau menugaskan untuk mempergunakan senjata pusaka yang bernama I Seliksik kepada prajurit Klungkung . Misi penugasan ini berhasil dengan gemilang, tentara Belanda porak poranda di pantai Kusamba dan kerugian yang terbesar adalah gugurnya Jendral Michiels dalam pertempuran tersebut. Sejak dipugar oleh Suaka Purbakala Bali mulai tahun 1979 maka keindahan lingkungan pura ini telah kembali seperti sedia kala
Letak Pura Taman Sari di sudut Timur Laut Kota Klungkung kira-kira 500 meter dari pusat kota. Keindahan Pura ini terlihat dari menyembulnya Meru Tumpang Sebelas dan Meru Tumpang Sembilan dari sebuah kolam. Dari ragam hias Tumpang Sebelas dapat kita maklumi bahwa meru tersebut ibarat Gunung Maha Meru yang dilandasi oleh kura-kura raksasa, terbenam di lautan susu. Kemudian para dewa dan raksasa memutar gunung Maha Meru dengan naga Ananthaboga sebagai pembelitnya. Dengan pusingan gunung tersebut di lautan susu kan dihasilkan berbagai macam produk, diantaranya adalah Amerta (air kehidupan). Demikianlah macam produk, diantaranya adalah Amerta (Air kehidupan). Demikianlah menurut ceritera yang termuat dalam Adi Parwa akan kebesaran arti dari Amerta sebagai pemberi air hidup dunia serta kesejahteraan dan kesucian. Tema ceritra tersebut sangat cocok dengan fungsi kehidupan lingkungan Pura Taman Sari. Lingkungan Pura Taman Sari sebagai tempat memuliakan danmenyimpan senjata pusaka kebesaran Majapahit yang dimiliki oleh Dynasti Kepakisan sebagai penguasa yang ditugaskan oleh Raja Majapahit untuk mengatur ketentraman pulau Bali. Sekalipun senjata-senjata kebesaran yang sangat dimuliakan sudah dirampas oleh Belanda dalam perang Puputan Klungkung pada tahun 1908, namuan hiasan Padma Anglayang sebagai lambang kekuasaan Majapahit masih terdapat pada lingkungan Pura ini. Lingkungan Pura ini dibangun pada akhir abad ke XVII yaitu ketika mulai perpindahan raja keturunan dinasti Kepakisan dari Gelgel ke Klungkung sebagai sesuhunan di Bali. Saat-saat terpenting tercatat dari Lingkungan Pura Taman Sari ialah ketika Dewa Agung Istri Kania memerintah untuk menghancurkan penyerbuan Belanda tahun 1849 di Kusamba. Dari lingkungan Pura Taman Sari beliau menugaskan untuk mempergunakan senjata pusaka yang bernama I Seliksik kepada prajurit Klungkung . Misi penugasan ini berhasil dengan gemilang, tentara Belanda porak poranda di pantai Kusamba dan kerugian yang terbesar adalah gugurnya Jendral Michiels dalam pertempuran tersebut. Sejak dipugar oleh Suaka Purbakala Bali mulai tahun 1979 maka keindahan lingkungan pura ini telah kembali seperti sedia kala
Goa Jepang
Goa Jepang yang terdiri dari 16 lubang, dibuat pada dinding
tebing, dipinggir jalan jurusan Denpasar-Semarapura, di atas sungai/Tukad
Bubuh. Goa/lubang yang terletak pada ujung Utara dan Selatan merupakan goa yang
berdiri sendiri. Sedangkan yang 14 buah lagi, di dalamnya berhubungan satu
dengan lainnya, yang dihubungkan oleh sebuah gang/lorong. Yang menarik dari goa
Jepang ini adalah bahwa letaknya sangat strategis merupakan goa kenangan dari
jaman penjajahan Jepang, dan didepannya dapat disaksikan pemandangan menarik
dengan gemerciknya aliran sungai Bubuh.
Goa Jepang yang terdiri dari 16 lubang, dibuat pada dinding
tebing, dipinggir jalan jurusan Denpasar-Semarapura, di atas sungai/Tukad
Bubuh. Goa/lubang yang terletak pada ujung Utara dan Selatan merupakan goa yang
berdiri sendiri. Sedangkan yang 14 buah lagi, di dalamnya berhubungan satu
dengan lainnya, yang dihubungkan oleh sebuah gang/lorong. Yang menarik dari goa
Jepang ini adalah bahwa letaknya sangat strategis merupakan goa kenangan dari
jaman penjajahan Jepang, dan didepannya dapat disaksikan pemandangan menarik
dengan gemerciknya aliran sungai Bubuh.
Lokasi
Goa Jepang dapat dijangkau dengan mudah karena letaknya dipinggir jalan pada jurusan Denpasar-Semarapura, tepatnya di Banjar Koripan, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan.
Goa Jepang dapat dijangkau dengan mudah karena letaknya dipinggir jalan pada jurusan Denpasar-Semarapura, tepatnya di Banjar Koripan, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan.
Kunjungan
Karena letaknya sangat strategis yaitu dipinggir jalan yang lalulintasnya ramai, maka goa ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Karena letaknya sangat strategis yaitu dipinggir jalan yang lalulintasnya ramai, maka goa ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Deskripsi
Goa yang terdiri atas 16 buah lubang dengan kedalaman 4 meter, dua diantaranya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan. Goa ini dibangun oleh balatentara Jepang daslam usahanya memperrtahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tahun 1941. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yangdimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok.
Goa yang terdiri atas 16 buah lubang dengan kedalaman 4 meter, dua diantaranya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan. Goa ini dibangun oleh balatentara Jepang daslam usahanya memperrtahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tahun 1941. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yangdimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok.
Desa Tihingan
Desa Tihingan di Kecamatan Banjarangkan merupakan pusat
kerajinan pembuat gong (Gamelan). Pembuatan gong dikerjakan mulai dari tenaga
kasar sampai tenaga ahli yang khusus untuk menyelaraskan suara gong/gamelan
tersebut. Jadi yangterpenting dari pekerjaan ini adalah keahlian untuk
menyelaraskan suara gong. Di Desa Tihingan terdapat dua kelompok Pande (ahli
atau tukang) yang membuat Gong.
Desa Tihingan di Kecamatan Banjarangkan merupakan pusat
kerajinan pembuat gong (Gamelan). Pembuatan gong dikerjakan mulai dari tenaga
kasar sampai tenaga ahli yang khusus untuk menyelaraskan suara gong/gamelan
tersebut. Jadi yangterpenting dari pekerjaan ini adalah keahlian untuk
menyelaraskan suara gong. Di Desa Tihingan terdapat dua kelompok Pande (ahli
atau tukang) yang membuat Gong.
Lokasi
Desa Tihingan terletak di Kecamatan Banjarangkan, dan dapat dijangkau dengan kendaraan baik itu roda dua maupun dengan roda empat. Kira-kira 3 km arah Barat Kota Semarapura. Jalan menuju Desa Tihingan sudah diaspal.
Desa Tihingan terletak di Kecamatan Banjarangkan, dan dapat dijangkau dengan kendaraan baik itu roda dua maupun dengan roda empat. Kira-kira 3 km arah Barat Kota Semarapura. Jalan menuju Desa Tihingan sudah diaspal.
Deskripsi
Masyarakat desa ini sangat terkenal di Bali karena keahliannya membuat istrumen (gamelan) Gong. Kecuali Gong, masyarakat di desa ini dapat pula membuat berbagai macam gamelan Bali lainnya seperti : Semara Pegulingan, Gender Wayang, Kelentangan/Angklung dan lain-lainnya yang bahannya terbuat dari logam kerawang. Mungkin keahlian membuat gong ini telah diwariskan oleh leluhur mereka yangtelah berabad-abad lamanya terkenal sebagai Pande Gong dari Desa Tihingan. Hal tersebut dapat kita buktikan dengan katutnya nama para pande Tihingan pada barungan-barungan gamelan yang ada di desa-desa. Akan keadaan sekarang jauh lebih maju lagi. Gamelan Bali yang mempunyai ciri khusus dan enak dinikmati telah menyebar keseluruh tanah air, bahkan ke seluruh dunia. Sering dijumpai ada wisatawan asing yang berkunjung ke desa Tihingan hanya karena tertarik dan kemudian memesan seperangkat Gong untuk dibawa ke negerinya.
Masyarakat desa ini sangat terkenal di Bali karena keahliannya membuat istrumen (gamelan) Gong. Kecuali Gong, masyarakat di desa ini dapat pula membuat berbagai macam gamelan Bali lainnya seperti : Semara Pegulingan, Gender Wayang, Kelentangan/Angklung dan lain-lainnya yang bahannya terbuat dari logam kerawang. Mungkin keahlian membuat gong ini telah diwariskan oleh leluhur mereka yangtelah berabad-abad lamanya terkenal sebagai Pande Gong dari Desa Tihingan. Hal tersebut dapat kita buktikan dengan katutnya nama para pande Tihingan pada barungan-barungan gamelan yang ada di desa-desa. Akan keadaan sekarang jauh lebih maju lagi. Gamelan Bali yang mempunyai ciri khusus dan enak dinikmati telah menyebar keseluruh tanah air, bahkan ke seluruh dunia. Sering dijumpai ada wisatawan asing yang berkunjung ke desa Tihingan hanya karena tertarik dan kemudian memesan seperangkat Gong untuk dibawa ke negerinya.
K e r t a G o s a
Sebagai bekas kerajaan, wajar jika
Klungkung mempunyai banyak peninggalan yang saat ini menjadi objek wisata.
Salah satunya adalah Taman Gili Kerta Gosa, peninggalan budaya kraton
Semarapura Klungkung. Kerta Gosa adalah suatu bangunan (bale) yang merupakan
bagian dari bangunan komplek kraton Semarapura dan telah dibangun sekitar tahun
1686 oleh peletak dasar kekuasaan dan pemegang tahta pertama kerajaan Klungkung
yaitu Ida I Dewa Agung Jambe.
Kerta Gosa terdiri dari dua buah
bangunan (bale) yaitu Bale akerta Gosa dan Bale Kambang. Disebut Bale Kambang
karena bangunan ini dikelilingi kolam yaitu Taman Gili. Keunikan Kerta Gosa
dengan Bale Kambang ini adalah pada permukan plafon atau langit-langit bale ini
dihiasi dengan lukisan tradisional gaya Kamasan (sebuah desa di Klungkung) atau
gaya wayang yang sangat populer di kalangan masyarakat Bali. Pada awalnya,
lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan itu terbuat dari kain dan parba.
Baru sejak tahun 1930 diganti dan dibuat di atas eternit lalu direstorasi
sesuai dengan gambar aslinya dan masih utuh hingga sekarang. Sebagai peninggalan
budaya Kraton Semarapura, Kerta Gosa dan Bale Kambang difungsikan untuk tempat
mengadili perkara dan tempat upacara keagamaan terutama yadnya yaitu potong
gigi (mepandes) bagai putra-putri raja.
Fungsi dari kedua bangunan terkait
erat dengan fungsi pendidikan lewat lukisan-lukisan wayang yang dipaparkan pada
langit-langit bangunan. Sebab, lukisan-lukisan tersebut merupakan rangkaian
dari suatu cerita yang mengambil tema pokok parwa yaitu Swargarokanaparwa dan
Bima Swarga yang memberi petunjuk hukuman karma phala (akibat dari
baik-buruknya perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya) serta penitisan
kembali ke dunia karena perbuatan dan dosa-dosanya. Karenanya tak salah jika
dikatakan bahwa secara psikologis, tema-tema lukisan yang menghiasi langit-langit
bangunan Kerta Gosa memuat nilai-nilai pendidikan mental dan spiritual. Lukisan
dibagi menjadi enam deretan yang bertingkat.
Deretan paling bawah menggambarkan
tema yang berasal dari ceritera Tantri. Dereta kedua dari bawah menggambarkan
tema dari cerita Bimaswarga dalam Swargarakanaparwa. Deretan selanjutnya
bertemakan cerita Bagawan Kasyapa. Deretan keempat mengambil tema Palalindon
yaitu ciri atau arti dan makna terjadinya gempa bumi secara mitologis. Lanjutan
cerita yang diambil dari tema Bimaswarga terlukiskan pada deretan kelima yang
letaknya sudah hampir pada kerucut langit-langit bangunan. Di deretan terakhir
atau keenam ditempati oleh gambaran tentang kehidupan nirwana. Selain di
langit-langit bangunan Kerta Gosa, lukisan wayang juga menghiasi langit-langit
bangunan di sebelah barat Kerta Gosa yaitu Bale Kambang. Pada langit-langit
Bale Kambang ini lukisan wayang mengambil tema yang berasal dari cerita Kakawin
Ramayana dan Sutasoma.
Pengambilan tema yanga berasal dari
kakawin ini memberi petunjuk bahwa fungsi bangunan Bale Kambang merupakan
tempat diselenggarakannya upacara keagamaan Manusa Yadnya yaitu potong gigi
putra-putri raja di Klungkung. Daya tarik dari Kerta Gosa selain lukisan
tradisional gaya Kamasan di Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang, peninggalan
penting lainnya yang masih berada di sekitarnya dan tak dapat dipisahkan dari
segi nilai sejarahnya adalah pemedal agung (pintu gerbang/gapura). Pemedal
Agung terletak di sebelah barat Kerta Gosa yang sangat memancarkan nilai
peninggalan budaya kraton. Pada Pemedal Agung ini terkandung pula nilai seni
arsitektur tradisional Bali. Gapura inilah yang pernah berfungsi sebagi
penopang mekanisme kekuasaan pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama
lebih dari 200 tahun (1686-1908).
Pada peristiwa perang melawan
ekspedisi militer Belanda yang dikenal sebagai peristiwa Puputan Klungkung pada
tanggal 28 April 1908, pemegang tahta terakhir Dewa Agung Jambe dan pengikutnya
gugur. (Rekaman peristiwa ini kini diabadikan dalam monumen Puputan Klungkung
yang terletak di seberang Kerta Gosa). Setelah kekalahan tersebut bangunan inti
Kraton Semarapura (jeroan) dihancurkan dan dijadikan tempat pemukiman penduduk.
Puing tertinggi yang masih tersisa adalah Kerta Gosa, Bale Kambang dengan Taman
Gili-nya dan Gapura Kraton yang ternyata menjadi objek yang sangat menarik baik
dari sisi pariwisata maupun kebudayaan terutama kajian historisnya.
Kerta Gosa ternyata juga pernah
difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya
birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya
pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung
Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa
kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda
itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional
seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan
periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan
restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang
oleh para seniman lukis dari Kamasan. Restorasi lukisan terakhir dilakukan pada
tahun 1960.
K a m a s a n
Kamasan adalah sebuah komunitas seniman
lukisan tradisional. Begitu intim dan begitu lama berkembangnya seni lukis
tradisional maka para seniman menyebut hasil-hasil lukisan di sana memiliki
gaya (style) tersendiri yaitu lukisan tradisional Kamasan. Sesungguhnya bakat
seni tumbuh pula pada karya-karya seni lainnya yaitu berupa seni ukir emas dan
perak dan yang terakhir ialah seni ukir peluru. Meskipun dari segi material
yang digunakan kain warna logam mengikuti perubahan yang terjadi tetapi ciri
khasnya tetap tampak dalam tema lukisan atau ukiran yaitu menggambarkan
tokoh-tokoh wayang. Tokoh-tokoh wayang yang menjadi tema lukisan atau ukiran mengacu pada cerita epos Mahabharata atau Ramayana, begitu juga cerita kekawin Arjuna Wiwaha, Suthasoma. Oleh karena itu, lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau Wayang Kamasan dapat dikatakan agak tua umurnya dari konteks sejarahnya yang hingga sekarang masih nampak utuh. Menurut kesan para kolektor Internasional, lukisan gaya Kamasan dianggap masih sangat halus dan canggih, bersih, tidak ribut dengan detil yang tidak penting dan sangat jelas pesan ceritanya. Lukisan atau ukiran tradisional yang berintikan wayang itulah yang membawa daya tarik tersendiri bagi seniman atau wisatawan yang berkunjung ke desa Kamasan.
Lokasi
Kamasan sebagai pusat berkembangnya lukisan dan ukiran tradisional adalah nama sebuah desa di Kecamatan dan Kabupaten Klungkung. Desa Kamasan secara geografis termasuk desa dataran rendah pantai Klotok atau pantai Jumpai ± 3 km. Jarak dari Denpasar ke desa ini ialah 43 km, dapat dicapai dengan kendaraan bermotor, seluruh jalan menuju obyek yaitu pusat-pusat lukisan atau kerajinan ukiran sudah diaspal.
Bisa ditempuh melalui tiga jalur yaitu : (1) Jalur Barat dari tengah-tengah kota kabupaten ke arah selatan sepanjang 1,5 km berbelok ke kiri langsung sampai banjar Sangging, tempat kediaman pelukis tradisional wayang yang ternama yaitu Nyoman Mandra. Ke selatan sedikit lagi sampai ke banjar Pande Mas, pusat ukiran emas, perak; (2) Jalur utara dari kota kabupaten Klungkung agak di bagian timur ke arah selatan melalui belokan-belokan jalan sampai di banjar Siku, juga tempat kediaman pelukis tradisional yang bernama Mangku Mura; (3) Jalur selatan dari tengah-tengah kota Kabupaten Klungkung ke arah selatan sepanjang 3 km melalui desa-desa Tojan dan Gelgel sampai ke banjar Pande, pusat kerajinan ukiran tradisional bahan peluru.
Sepanjang jalan yang dilalui di banjar-banjar atau desa-desa, Tojan dan Gelgel tetangganya masih terdengar dentangan palu para pengrajin ukir perak dan peluru atau juga suara tenunan Cagcag yang menghasilkan kain songket. Dapat disebut obyek-obyek disekitarnya ialah Kertha Gosa di kota Klungkung, Pura Batu Klotok dan Pura Dasar di Gelgel yang memiliki riwayat sisa-sisa kebesaran kerajaan Gelgel abad ke-15 dan ke-16 di Bali.
Fasilitas
Ada sebuah ruang pameran atau penjualan produk lukisan atau ukiran, tempatnya di sebelah barat banjar Sangging, sekitar 50 meter. Sebuah sanggar latihan melukis didirikan oleh Nyoman Mandra di rumahnya sendiri. Apabila tamu-tamu berkunjung ke Kamasan maka lebih banyak dapat menikmati langsung bengkel-bengkel kerja para seniman lukis atau ukir dirumahnya masing-masing. Jalan yang dilalui seluruhnya beraspal bisa ditempuh kendaraan bermotor (mobil, sepeda motor) atau tersedia pula angkutan tradisional dokar.
Kunjungan
Kamasan sebagai pusat produk lukisan atau ukiran tradisional banyak mendapat kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Waktu kunjungan mereka ialah pada siang hari. Para wisatawan yang berkunjung ke Kamasan menggunakan peralatan sepeda motor, mobil, taxi atau dokar.
Deskripsi
Kamasan atau "Ka-emas-an" adalah nama yang cukup tua untuk komunitas orang-orang yang mempunyai pekerjaan dalam bidang memadai yaitu Pande Mas sesuai dengan nama salah satu banjar di desa Kamasan. Bukit arkeologis yang ditemukan berupa tahta-tahta batu, arca menhir, lesung batu, palungan batu, monolit yang berbentuk silinder, batu dakon, lorong-lorong jalan yang dilapisi batu kali yang pernah ditemukan pada tahun 1976 dan 1977, yang tersebar di desa-desa Kamasan, Gelgel dan Tojan, memberi petunjuk bahwa komunitas cukup tua umurnya.Dari temuan arkeologis itu juga memberi petunjuk bahwa tradisi megalitik pernah mewarnai kehidupan komunitas di Kamasan dan sekitarnya, yaitu kehidupan komunitas pra Hindu yang berakar pada masa neolitikum (+ 2000 tahun SM). Tradisi Megalitik telah diserap oleh para undagi dan ke-pande-an pada periode kemudian. Para Pande semakin dikenal dan difungsikan oleh Raja (Ida Dalem) sejak kerajaan berpusat di Gelgel (1380-1651).Produk seni ukir pada logam emas atau perak yang berbentuk pinggan (bokor, dulang dll) telah dijadikan perlengkapan barang-barang perhiasan Keraton Suweca Linggaarsa Pura Gelgel. Selain seni ukir, berkembang pula seni lukis wayang untuk hiasan di atas kain berupa bendera (kober , umbul-umbul, lelontek), kain hiasan (ider-ider dan parba) yang menjadi pelengkap dekorasi di tempat-tempat suci (pura) atau bangunan di komplek Kraton.Sejak pemegang tahta II berkuasa yaitu Dalem Waturenggong (1460-1550) kerajaan Gelgel mencapai puncak kemasyuran, maka keemasan Kamasan merupakan desa pengrajin. Banjar-banjar yang ada terutama Sangging dan Pande Mas dapat dikatakan banjar Gilda, kelompok kerja, pengrajin yang terdiri dari rumah-rumah serta bengkel-bengkel dimana para warganya tinggal, bekerja dan mengabdi kepada sang Raja hingga pada akhir hayat mereka.Raja dipandang sebagai dewa raja yang bertugas menjaga agar jagad (alam semesta dan isinya) senantiasa ada dalam keadaan seimbang dan selaras. Oleh karena seni dipandang sebagai unsur penting dalam menjaga keselarasan itu lewat karya seni sakral maka menjadi tugas penguasa untuk melindungi serta memelihara kesenian.Pada waktu pusat kekuasaan dipindahkan dari Gelgel ke Klungkung, oleh Dewa Agung Jambe tahun 1686, keturunan langsung dari Dinasti Kresna Kepakisan di Gelgel, kedudukan desa Kamasan yang berintikan Sangging dan Pande Mas sebagai banjar Gilda pengrajin tempat para seniman lukisan dan ukiran tetap dipertahankan.Akan tetapi sekarang sesudah Klungkung berubah menjadi ibukota kabupaten Propinsi Bali dan para keturunan Raja serta bangsawannya menjadi pejabat dan pegawai RI, banjar Sangging dan Banjar Pande Mas bukan lagi banjar Gilda dari sang Raja. Meskipun demikian, para seniman dan pengrajin Sangging, pande mas dan Banjar-banjar lainnya : Siku, Geria, Kacangdawa, Peken Pande dan Tabanan masih terus menghasilkan lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau gaya wayang.Perluasan produk pengrajin telah beragam, tidak hanya terbatas pada ukiran emas dan perak tetapi muncul pula seni ukir yang berbahan tembaga atau kuningan dan peluru. Produk kesenian mereka berupa lukisan atau ukirannya banyak dipesan oleh wisatawan mancanegara atau nusantara. Begitu juga, sejalan dengan meningkatnya turisme, toko-toko souvenir dan seni di Klungkung, atau pasar seni Gianyar dan Denpasar serta hotel-hotel juga menjadi pelanggan yang tetap dari produk kesenian gaya wayang di Kamasan.
Pantai Kusamba
Pantai
Kusamba merupakan obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi, terletak
sekitar 7 km ke arah timur dari kota Semarapura. Disamping itu, pantai ini
merupakan pantai nelayan dan juga tempat pembuatan garam secara tradisional.
Kita dapat menyaksikan setiap hari para nelayan yang sedang melaut mencari ikan
maupun petani garam yang sedang membuat garam di pinggir pantai.
Sampan
nelayan berderet di pinggir pantai di bawah pohon nyiur, begitu pula
pondok-pondok pembuatan garam berjejer di sepanjang pantai, menimbulkan
pemandangan yang benar-benar menarik bagi mereka yang berkunjung ke pantai
tersebut. Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali, obyek wisata ini
sangat ideal untuk dipilih sebagai salah satu tujuan wisata.
KAWASAN NUSA PENIDANusa Penida merupakan salah satu wilayah kecamatan dari empat kecamatan yang ada di Kabupaten Klungkung. Kecamatan Nusa Penida terdiri dari tiga pulau yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Di kawasan Nusa Penida terdapat beberapa obyek wisata dan
tempat rekreasi . Rekreasi wisata tirta yang sangat menarik untuk dinikmati
adalah wisata bahari dengan terumbu karangnya yang indah dengan jenis ikan yang
beraneka ragam.
SUANA
Disamping pantainya yang berpasir putih denga perbukitan
yang indah, di Desa Suana juga terdapat goa yang bernama Goa Giri Putri . Goa
Giri Putri terletak di Dusun Karang sari Desa Suana + 3 Km arah Timur Sampalan
Ibu Kota Kecamatan Nusa Penida.
Pada waktu
masuk ke dalam goa agak sulit , tapi seteleh merangkak + 3 m telah sampai pada
ruang goa yang sangat luas. Di dala goa terdapat stalagnit dan stalagtit juga
terdapat mata air yang dikeramatkan oleh penduduk Di dalam goa ini juga
terdapat pura. Goa Giri Putri ini tembus sampai ke Barat dan disini terdapat
mulut goa yang cukup lebar .
KARANG BOLONG
Obyek ini
dapat disaksikan dari Penida Desa Sakti. Selain dapat menyaksikan pemandangan
Karang Bolong juga pantai Penida yang berpasir putih dengan karang lautnya yang
indah. Di tempat inilah terdapat mata air yang telah dikelola untuk kebutuhan
penduduk.
LEMBONGAN DAN JUNGUT BATU
Pantai
Lembongan yang berpasir Putih dengan karang lautnya yang indah juga terdapat
berjenis-jenis ikan yang hidup di dalamnya. Merupakan panorama pemandangan
bawah laut yang indah Dari pantai ini dapat disaksikan pemandangan
Matahari
terbenam di ufuk Barat.
Matahari
terbenam di ufuk Barat.
Identifikasi dan Daya TarikPantai Atuh terletak disebuah teluk yang indah dengan alam berpasir putih disebelah kirinya dengan menjorok kelaut terdapat Tanjung Juntil dan disebelah kanan ( Selatan ) menjorok Labuan Ampuak berlanjut ketimurnya lagi terletak Gili Batu Melawang, Gili Batu Padasan, Gili Batu Abah dan Gili Batu Metegen.Diujung Timur Tanjung Juntil dan juga diujung Timur Gili Padasan terdapat tempat memancing yang sangat idial karena didepan kedua tanjung tersebut dilewati oleh arus bolak-balik dari Utara ke Selatan (dan sebaliknya) yang diikuti oleh rombongan/ Kawanan ikan bersklala ikan besar dan kecil, terutama setelah dan sebelum Purnama dan beberapa hari sebelum dan sesudah Tilem atau bulan mati, hari-hari tersebut merupakan surganya bagi pemancing mania.Disebelah Selatan Labuhan Ampuak terdapat Goa Alam, sarang Burung Walet, komoditi yang sangat langka dan sangat mahal harganya. Didaratan Lembah Atuh keadaan tanahnya sangat subur, disini juga terdapat sebuah Pura Atuh, sebuah Pura Segara, khusus pemujaan terhadap Dewa Baruna ( Pura Segara ) yang piodalannya dilakukan setiap sasih Kedasa ( Bulan Kesepuluh ) penanggalan bali (Isaka) dimana masyarakat datang dari penjuru Desa dan Banjar Bendem, Desa Tanglad dan lain-lainnya.Upacara piodalan dilakukan sehari penuh dengan dipersembahkan berbagai tarian diantaranya tarian baris Jangkang pelillit sebuah tarian masal yang sangat sakral, tarian yang menggambarkan para prajurit kerajaan yang siap menghadapi musuh yang datang menyerang, dan sangat langka yang ada di banjar Pelilit. Agak kedalam terdapat dua sumur suci yang airnya sangat bening dan murni, air tawar tersebut mungkin kualitasnya terbaik diseluruh kawasan Nusa Penida.Akses menuju Pantai Atuh dapat dicapai melalui dua arah yaitu dari banjar Pelilit (20 Km dari pelabuhan boot buyuk) dan dilanjutkan dengan jalan tanah kurang lebih 2 Km dan yang satunya dari Banjar Kelodan ( 17 Km dari Buyuk ) dilanjutkan dengan kurang lebih 5 Km jalan tanah.
Labuan Ampuak & Teluk Sebila
Labuhan Ampuak
Kawasan Labuan Ampuak terletak di wilayah Banjar pelilit Pantai Atuh dan Calung, ketinggiannya kurang lebih 100 M diatas permukaan laut.Konsep keindahan alam yang hampir sempurna yang kita kenal dengan kawasan " Nyegara Gunung " dimana kawasan tersebut dikelilingi oleh bukit -bukit misalnya Bukit Tunjuk Pusuh, Bukit Nyahi, Bukit Juntil dan lain-lain, serta dikawasan pantainya yang disebut Pantai Titibehu terbentang luas Selat Lombok yang samar-samar terlihat
Kawasan bangko-bangko tempat yang sangat idial untuk tempat Surfing di Kawasan Lombok Selatan dan pada lepas pantainya terlihat jelas Gili-gili ( pulau-pulau karang ) sebagai penghias pemandangan yang sangat indah seperti Gili Padasan, Gili Batu Abah Gili Batu Mategen, Gili Batu Lumbung, Gili Batu Pawon, Gili Batu Sanggah dan Gili Batu Tumpeng Tanpa berlebihan kiranya kawasan ini termasuk salah satu kawasan wisata yang terindah
diseluruh Nusa Penida dan mungkin juga diseluruh kawasan Pulau Bali.
Teluk Sebila
Teluk sebila yang berpasir putih, adalah sebuah teluk yang indah dan alami, sangat sunyi, seolah olah kita berada pada kawasan yang tidak berpenghuni, terletak diantara Tanjung Juntil dan Pah Gede (sangat idisl untuk tempat memancing ikan )Teluk Sebila yang mempunyai kedalaman yang sangat idial dan aman untuk pendaratan dan berlabuhnya kapal-kapal ukuran kecil seperti boot, sampan dan perahu kecil lainnya.
Akses menuju Teluk Sebila dapat dicapai lewat lautan yaitu langsung ke Teluk Sebila dapat dicapai dari daratan yaitu pelabuhan Buyuk menuju Banjar Kelodan selanjutnya menuju jalan tanah langsung ke Teluk Sebila, dan juga dapat dicapai lewat lautan yaitu langsung ke Teluk Sebila, karena teluk tersebut sangat alami untuk pelabuhan/ pendaratan perahu-perahu kecil. Di kawasan Teluk Sebila juga terdapat sebuah sumur dangkal, namun kualitas sumurnya tidak sebaik Teluk Atuh.
KOLAM RENANG LILA ARSANA
Kolam renang Lila Arsana yang terletak
ditengah-tengah Kota Semarapura tepatnya di Jalan Gunung Rinjani yang merupakan
tempat rekreasi dengan 1 unit kolam untuk dewasa dan 1 unit lagi untuk
anak-anak.
Museum
ini terletak di jalur yang cukup strategis tepatnya di Pertigaan Banda Desa
Takmung 3 Km arah Barat Kota Semarapura. Bangunan Museum dengan perpaduan
arsitek Bali Modern. Di Museum ini dipajangkan berbagai lukisan klasik Bali baik dari peninggalan zaman dahulu maupun yang baru hasil karya dari pemiliknya I Nyoman Gunarsa.
DESA BUDAGA
Desa
Budaga yang terletak dilingkungan kota Semarapura tepatnya di Kelurahan
Semarapura Kauh. Di Desa ini terdapat pengerajin yang cukup terampil. Hasil
kerajinannya berupa barang-barng untuk kebutuhan upacara keagamaan. Juga
kerajinan lainnya untuk suvenir berupa Bola mimpi yang merupakan hasil karya
dari I Nengah Patra satu-satunya pengerajin di Desa Budaga.
Wisatanesia.com.Pura
Goa Lawah terletak sekitar 49km dari Kota Denpasar tepatnya di Kecamatan
Dawan,Klungkung atau sekitar 10km sebelah timur Kota Semarapura.Tidak diketahui
pasti siapa pendiri dan kapan didirikannya Pura Goa Lawah ini tetapi pura ini
diperkirakan didirikan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11.Pura yang dihuni oleh
ribuan kelelawar ini termasuk sebagai Kahyangan Jagat atau Sad Kahyangan.Pemandangan ditempat ini terasa unik, sebuah goa kelihatan dibawah pohon yang rindang, sementara dimulut goa terdapat beberapa pelinggih. Pura Goa Lawah menempati wilayah pantai yang bertemu dengan wilayah perbukitan. Dipelataran pura berdiri kukuh beberapa meru dan stana lainnya.
Di bagian Pura, tepatnya di mulut goa terdapat pelinggih Sanggar Agung sebagai pemujaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Meru Tumpang Tiga, Gedong Limasari dan Gedong Limascatu.
Wisatanesia.com-Museum Semarajaya
berada dalam Komplek Kertha Gosa/Taman Gili, tepatnya tepatnya berada di bekas
gedung SMP I Klungkung yaitu terletak di Jl. Untung Surapati.Museum Semarajaya
Dapat dicapai dari jurusan Denpasar-Candi Dasa, Amlapura dan Besakih.Museum Semarajaya dibangun pada Gedung Bekas Sekolah MULO (Sekolah Menengah Jaman Belanda) dan bekas SMP I Klungkung terletak dalam komplek Kertha Gosa/Taman Gili, Pemedal Agung (pintu bekas kerajaan Klungkung). Di dalam Museum dipamerkan barang-barang dari jaman prasejarah sampai benda-benda yang dipergunakan selama perang puputan Klungkung. Museum Semarajaya diresmikan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 April 1992. Dalam Museum ini dapat dilihat barang-barang yang dipergunakan sebagai perlengkapan upacara adat oleh raja-raja Klungkung serta foto-foto dokumentasi keturunan raja-raja di Klungkung.
Museum Semarajaya sejak dibuka dan diresmikan pada tanggal 28 April 1992 telah banyak mendapat kunjungan wisatawan. Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Museum Semarajaya dikenakan retribusi obyek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar